Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 12—20°C di siang hari dan 6-10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian. Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.Teori lain menyatakan, nama Dieng berasal dari bahasa Sunda ("di hyang") karena diperkirakan pada masa pra-Medang (sekitar abad ke-7 Masehi) daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh. Tempat wisata yang dapat dikunjungi dalam paket wisata ini, meliputi : Kawah Sikidang, Telaga Warna, Gardu Pandang Tieng, Bukit Sikunir, Telaga Cebong, Dieng Plateu Theatre, Gedung Pendopo Soeharto – Whitlem, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Pertapaan Goa Semar, Desa Sembungan, Museum Kailasa, Batu Pandang, dan Batu Ratapan Angin. (sumber: Wikipedia | http://id.wikipedia.org/wiki/Dieng )
Bukit Teletubbies yang masih alami di pegunungan prau dieng. Gunung prau sebagai puncak tertinggi di daerah pegunungan dieng ( 2.565 m dpl ) memiliki spot terbaik untuk melihat keindahan dan pesona alam yang luar biasa di banding dengan perbukitan di sekitarnya Puncak pegunungan prau di hiasi bunga liar seperti bunga daysi atau ceplikan ( Jawa ) dengan gundukan gundukan tanah menyerupai deretan bukit kecil yang tersebar dari ujung utara hingga selatan dan lebih di kenal sebagai Bukit Teletubbies Dieng ( TamanSeribu bukit ). Panorama yang bisa di saksikan seperti gunung slamet di sebelah barat dengan keindahan Sunsetnya gunung prau dieng, sebelah timur pegunungan di jawa tengah seperti gunung sindoro, gunung merbabu, gunung merapi, gunung unggaran, gunung telomoyo, gunung tlerep, gunung kelud, dan bukit batok di kaki lereng pegunungan prau tersebut. Bagi penduduk dieng gunung prau juga sering di sebut dengan istilah telaga wurung. Satwa khas penghuni pegunungan prau adalah burung elang jawa, babi hutan, dan kera hitam. Beberapa jalur yang di gunakan untuk kegiatan pendakian menuju gunung prau dieng bisa melalui dieng plateau atau desa patak banteng dan kalilembu dieng. (Sumber: diengindonesia.com)
Candi Arjuna adalah sebuah bangunan candi Hindu yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia. Candi Arjuna merupakan salah satu bangunan candi di Kompleks Percandian Arjuna, Dieng. Di kompleks ini juga terdapat Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Candi Arjuna terletak paling utara dari deretan percandian di kompleks tersebut. Sementara itu, Candi Semar adalah candi perwara atau pelengkap dari Candi Arjuna. Kedua bangunan candi ini saling berhadapan. Seperti umumnya candi-candi di Dieng, masyarakat memberikan nama tokoh pewayangan Mahabarata sebagai nama candi. Candi Arjuna berukuran 6 x 6 m dan menghadap ke arah barat. Pada pintu masuk dan relung-relungnya dihiasi kala makara. Atap candi berjenjang dengan menara-menara kecil di setiap sudut. Ditemukannya prasasti berangka tahun 731 Caka (809 M) di dekat Candi Arjuna dapat menjadi petunjuk pembangunan candi sekitar awal abad IX M. Mulai tahun 2010 kompleks Candi Arjuna mulai digunakan untuk pengembangan wisata yang dikemas oleh Dinas Pariwisata Banjarnegara dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Mereka menyelenggarakan acara budaya tahunan yang telah dikenal dengan nama DCF (Dieng Culture Festival). (Sumber: Wikipedia)
Dieng theater Plateau merupakan salah satu tempat wisata unggulan di dataran tinggi Dieng Wonosobo. Dalam lokasi wisata Dieng tater itu sendiri anda akan disuguhkan tentang cerita terbentuknya Dieng desertakan gunung-gunung kecil yang ada disekitarnya. Pemerintah Wonosobo memiliki ide untuk mengmbangkan kawasan Dieng dengan pendidikan yang benar, kama dari itu terbentuklah film dokumenter yang berkelas tinggi untuk memperkenalkan Dieng kepada masyarakat umum secara baik dan benar. Film Sejarah Dieng terseut berdurasi sekitar 20 menit, tidak terlalu lama dan tidak jiga terlalu singkat. Anda pasti akan mudah mengerti dengan film dokumenter tersebut. Bahasa yang digunakan dalam film Dieng teater tersbut juga menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kapasitas gedung ini sendiri sekitar 100 orang dalam 1 kali pertunjukan. ini akan diputar terus-menerus dari pagi sampai sore, jadi jika anda yang tertinggal jangan khawatir karena hanya dengan menunggu sekitar 15 menit anda akan mendapat giliran melihat film dokmenter tentang Dieng ini. (Sumber: wisatadiengtour.com)
Telaga Warna Dieng adalah salah satu objek wisata yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Telaga ini merupakan salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Wonosobo. Nama Telaga Warna sendiri diberikan karena keunikan fenomena alam yang terjadi di tempat ini, yaitu warna air dari telaga tersebut yang sering berubah-ubah. Terkadang telaga ini berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar Matahari mengenainya, maka warna air telaga nampak berwarna warni. Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi telaga warna adalah saat pagi atau siang hari, karena pada sore hari, kabut tebal akan menutupi daerah sekitar telaga warna, sehingga pengunjung tidak dapat menikmati keindahan alamnya. Di sekitar Telaga Warna Dieng tedapat beberapa gua yang juga patut untuk dikunjungi, seperti Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati. Di depan gua ini terdapat arca wanita dengan membawa kendi. Gua ini juga memiliki kolam kecil yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat kulit jadi lebih cantik. Ada juga Gua Sumur Eyang Kumalasari, dan Gua Jaran Resi Kendaliseto. Selain itu, ada pula Batu Tulis Eyang Purbo Waseso. Gua-gua di sekitar telaga warna ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi. Keberadaan Telaga Warna Dieng juga sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka menggunakan air dari telaga warna sebagai sumber irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama di kawasan ini. (Sumber: Wikipedia)
TELAGA PENGILON letaknya berada disamping telaga warna, tepatnya disebelah selatan. Sesuai dengan namanya Telaga Pengilon memiliki warna air yang sangat jernih / bening. Mengenai ukuranya telaga pengilon lebih kecil dari pada telaga warna. Telaga Pengilon (diambil dari bahasa jawa = ngilo, dalam bahasa Indonesia = bercermin) Karena kejernihan air di Telaga Pengilon, disangkutkan dengan sebuah mitos. Yaitu apabila seseorang bercermin di telaga pengilon yang berhati baik / mulia akan terlihat tampan atau cantik, begitu juga sebaliknya apabila ada seseorang berhati busuk bercermin di telaga pengilon maka terlihat jelek. Sebagaian masyarakat dieng masih percaya telaga pengilon dapat mengetahui isi hati seseorang. TELAGA CEBONG terletak di desa Sembungan, sebuah desa tertinggi di jawa tengah. Telaga cebong disamping dimanfaatkan untuk pariwisata, juga di manfaatkan masyarakat setempat untuk pengairan lahan pertanian berupa tanaman sayur mayur. Pada waktu pagi hari disekitar Telaga Cebong masih terdengar suara kokok ayam hutan, yang menandakan terbitnya matahari. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri di obyek wisata Telaga Cebong. (Sumber: Diengnews)
Batu Pandang Dieng atau Batu Ratapan Angin Dieng di Wonosobo merupakan tempat untuk melihat pemandangan terbaik di Dataran Tinggi Dieng,di sini bisa melihat dua danau sekaligus yang berbeda warna,Batu Pandang atau Batu Ratapan Angin terletak di atas Dieng Plateau Theater,sekitar 50m traking untuk menuju ke Batu Pandang Dieng, tempat ini sekarang mulai di kunjungi para wisatawan Domestik maupun Mancanegara, Sejarah mengapa dinamakan Batu Pandang atau Batu Ratapan Angin adalah Anda bisa melihat pemandangan dari atas batu dan kenapa juga di namakan Batu Ratapan Angin awalnya ada pemuda yang sedang galau dan merenung di atas Batu Pandang Dieng ini dengan di tiup semilirnya angin yang kencang di atas Batu Pandang Dieng ini.inilah ceritanya kenapa di namakan Batu Pandang atau Batu Ratapan Angin Dieng. (Sumber: dari berbagai sumber)
Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Dari karakter inilah namanya berasal karena penduduk setempat melihatnya berpindah-pindah seperti kijang (kidang dalam bahasa Jawa). Kawah Sikidang memiliki potensi besar yang bisa dieksplorasi, baik untuk kepentingan wisata maupun kepentingan hajat hidup masyarakat. Air dan uap panas kawah Sikidang menyimpan energi panas bumi yang bisa dikelola dan dikembangkan menjadi sumber energi ramah lingkungan. Dari sisi wisata, keberadaan kawah Sikidang bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Kawah yang terletak di tengah lembah demikian eksotis. Mudpool atau kolam lumpur berdiameter sekitar 4 meter menjadi pusatnya. Uap panasnya membentuk asap putih yang menari-nari ditiup angin. (Sumber: dari berbagai sumber)
GARDU PANDANG TIENG Bangunannya sederhana seperti menara pada umumnya. Namun Gardu Pandang Tieng menjadi tidak biasa kalau anda berada di sana pagi atau sore hari. Mata telanjang anda dapat menyaksikan hamparan ladang kentang dan menyaksikan kabut menggulung-gulung dari berbagai arah. Anda juga bisa menyaksikan terbitnya matahari disebuah gardu Pandang ini sambil menikmati teh hangat dan sepotong roti. Gardu Padang Tieng saat ini menjadi jujukan menyaksikan pesona alam di Pegunungan Dieng. Biasanya, gardu ini menjadi transit sebelum para pengunjung ke Dieng dan menyaksikan obyek wisata alam yang ada di sana. BUKIT SIKUNIR Bisa dikatakan view terbaik untuk menikmati sunrise di Dieng adalah di Gunung Sikunir ini. Gunung Sikunir mungkin tidak sepopuler Gunung Merapi di Yogyakarta atau Gunung Bromo di Tengger. Gunung ini adalah salah satu gunung yang mengelilingi Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut. Di sini kita bisa melihat keindahan Gunung Sindoro, Slamet dan barisan gunung lainnya. Lokasi ini terletak 8 kilometer dari Dieng dan untuk menuju gunung ini adalah dengan mendaki start mulai dari jam 4 pagi. Dalam perjalanan sangat diperlukan senter sebagai penerangan, jaket dan kondisi fisik yang kuat. Umumnya untuk mendaki gunung ini memakan waktu 45 menit dan paling lama 1 jam. (Sumber: dari berbagai sumber)
Museum ini terletak di kompleks Gedung Arca milik Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Lokasi museum ini berada di seberang Candi Gatotkaca, Dieng, Kecamatan Batur, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah. (Sumber: dari berbagai sumber)
Kembali ke menu "Kilasan Tempat Wisata"